Senin, 14 Januari 2013

0 CG


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!


Crazy  Girls is a friendship groups that formed at March 20, 2010 . We are always meets everyday . If we
have part time, we always hangout , lunch, travelling or take some photos anywhere.
We are promise for always together .
Crazy Girls is a friendship never end.. .


Ade Nurhayati Arifin
 ( De’shine )
Cianjur, November 14 1990
“Life is Never Flat”




Dina Kuswantina
( Nna Cuaby )
Banjaran, July 13 1990
“The sooner you finish you’re study, the happier you’re parents will be”

Karlina Eka Putri
( Uputz Nonx )
Soreang, July 07 1991
“Believe in the power of love”


Nurina Purwanti
( Noetz Cluth )
Bandung, August 02 1991
“Whatever happens, life must go on"

Resti Agustina
( donenx )
Pengalengan, August 05 1991
“Do everything with the flow"


Kristie Kusuma Dewi
( Qbuu )
Pengalengan, August 18 1991
“money can not always happy everything”




Zulvia Widya Octaviani
( Queen )
Banjaran, October 12 1991
“Taking Picture”


This is We are who will always maintain a sense of friendship and familier……….!!!!!


We are student of Bale Bandung University
We are student of English Department
Learning is a top priority for us

We want to make ourselves as people who succeed in everything




By : Resty Agustina . .

Edd . Nurina 

Kamis, 10 Januari 2013

0 Tuk Semua Ayah diDunia , Terutama Ayahku :*


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang sedang bersekolah ataupun kuliah dan jauh dari kedua orang tuanya..
Akan sering merasa rindu sekali dengan Mamanya..
Lalu bagaimana dengan Ayah???
Mungkin karena Mama lebih sering menelfonmu untuk menanyakan keadaanmu setiap hari..
Tapi..

Tahukah kamu?? Jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mama untuk menelfonmu???
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil.. Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng..
Tapi..
Tahukah kamu?? bahwa sepulang Ayah bekerja dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang mengajari Putra/putri kecilnya naik sepeda..
Dan setelah Ayah menganggapmu bisa.. Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu..
Kemudian Mama bilang :" Jangan dulu yah.. Jangan dilepas dulu roda bantunya."
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka..
Tapi..
Sadarkah kamu?? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu menatapmu dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putra/putri kecilnya PASTI BISA..
Ketika kamu sudah beranjak remaja,, kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam..
Dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan : "TIDAK BOLEH"
Tahukah kamu.. Bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu??
Karena bagi Ayah , kamu adalah sesuatu yang sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu, dan yang datang membujukmu agar tidak marah adalah.. Mama..

Tahukah kamu?? bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya..
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu..
Tapi.. Lagi² dia HARUS menjagamu.. :)



07/12/2012

Selasa, 08 Januari 2013

0 Menapak Jejak Bosscha di Negeri Sejuta Kabut


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

     Pangalengan. Kabupaten yang berada di Bandung Selatan ini dapat dicapai sekitar 2 jam berkendara dari Banjaran. Dan bersiaplah melewati jalan yang tidak terlalu mulus dan mendaki Jika jalan tidak padat kendaraan, khususnya angkot, dalam waktu 2 jam Anda sudah tiba di Negeri Sejuta Kabut.

(Masih Narsis aja, Difoto diMakam Pula)
    Pangalengan sudah eksis jauh sebelum Kota Bandung ada, tepatnya sejak tahun 1890an saat seorang pemuda Belanda bernama Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha datang ke desa di atas gunung berhawa sejuk 8-16 derajat celcius ini.  Ia membuka lahan tidak produktif jutaan hektar menjadi perkebunan teh. Untuk melancarkan kehidupan masyarakat dan kegiatan bisnisnya, Bosscha membangun sarana jalan, penerangan, sekolah untuk warga Pangalengan. Dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga Belanda, ia pun menternakan ratusan sapi perah di sekitar Situ Cileunca. Orang pribumi dibekali pengetahuan memerah susu dan mengembangbiakkan sapi perah, yang menjadi roda kehidupan warga setempat hingga kini. Saat itu Kolonial Belanda menetapkan Pangalengan sebagai pusat peternakan susu perah, bahkan majalah ¨Mooi Indie¨ menyebut wilayah Pangalengan sebagai Friesland in Indie (Frisia adalah daerah penghasil susu di Belanda).
(Dibelakang, Makamnya Bosscha)
     Sejarah Pangalengan tak bisa dilepaskan dari peran dan kontribusi Meneer Bosscha (1896-1928). Dan tahukah Anda, Bosscha adalah penggagas dan pendiri pembangunan Kampus ITB, Gedung Merdeka, dan Observatorium Bosscha di Lembang? Pemikiran Bosscha yang brilian hingga kini dikagumi dan dihormati seluruh warga di Pangalengan. Jejak sejarahnya antara lain rumah kediamannya di tengah perkebunan teh Malabar. Meskipun pernah dibom oleh tentara Jepang dan terimbas gempa, bangunan yang dibangun tahun 1894 itu masih utuh dan dipertahankan seperti aslinya.
Di dalam rumah Bosscha masih terdapat ruang tamu lengkap dengan kursi dan meja antik, termasuk piano buatan tahun 1880an. Kamar tidur Bosscha pun masih terawat, dan hanya dapat digunakan untuk menginap para pejabat PTPN Malabar serta pejabat Pemda. Jika memasuki ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai ruang bilyar akan terasa jejak sang pemilik rumah yang telah tiada 90 tahun lalu.

Bosscha wafat pada tahun 1928 di usia 63 tahun karena terjatuh dari kuda tunggangannya. Makam Bosscha terletak sekitar 500 m dari rumahnya, bangunan makam berbentuk topi bundar seperti yang sering dikenakannya. Makamnya sangat terawat dan asri. Pak kuncen menyambut setiap pengunjung dengan ramah, dan menceritakan sejarah Bosscha hingga meninggalnya dengan sangat antusias. Ia mengaku tidak mendapat gaji tetap dari PTPN Malabar, dan hanya memperoleh honor Rp 300 ribu per bulan dari pengelola rumah Bosscha. Ia pun tidak menetapkan tarif kepada pengunjung, bahkan ia menyiapkan setumpuk data tentang sejarah Pangalengan, yang biasanya difotocopy oleh para pelajar yang membutuhkannya. Sungguh dedikasi yang patut ditiru…
Menurut cerita kuncen makam, dengan pengaruh dan kekuasaannya saja, tidaklah mungkin Bosscha mampu membangun sedemikian banyak sarana dan fasilitas umum di Pangalengan dan Bandung. Dibalik kekuasaannya, Bosscha ternyata memiliki “kekuatan supranatural”, yang diperolehnya melalui pertemuannya secara intensif dengan “para penguasa”  kawasan gunung teh.  Tempat pertemuan Bosscha dengan “para  penguasa” itu hingga kini masih berdiri tegak, yaitu berupa bangunan joglo kayu berada di puncak Gunung Nini. Warga setempat meyakini tempat ini memiliki kekuatan magis bagi orang-orang yang percaya.
Menapak jejak Bosscha di negeri sejuta kabut ini sungguh pengalaman yang menyentuh jiwa. Selain mata dimanjakan oleh indahnya alam, penduduk yang bersahaja, udara yang sejuk segar, kita pun memperoleh teladan seorang Belanda yang teramat mencintai tempat yang ditinggalinya. Meski seorang penguasa, Bosscha bukan seorang penjajah  yang hanya mengeruk keuntungan dari kekayaan negeri ini. Teladan yang tak pernah kita peroleh dari penguasa negeri ini, yang dengan rakusnya mengeksploitasi sumber alam dan menyengsarakan rakyatnya...

By Nurina 19/07/2012