Pangalengan. Kabupaten yang berada di
Bandung Selatan ini dapat dicapai sekitar 2 jam berkendara dari Banjaran. Dan
bersiaplah melewati jalan yang tidak terlalu mulus dan mendaki Jika jalan tidak
padat kendaraan, khususnya angkot, dalam waktu 2 jam Anda sudah tiba di Negeri
Sejuta Kabut.
(Masih Narsis aja, Difoto diMakam Pula)
(Dibelakang, Makamnya Bosscha)
Sejarah Pangalengan tak bisa dilepaskan
dari peran dan kontribusi Meneer Bosscha (1896-1928). Dan tahukah Anda, Bosscha
adalah penggagas dan pendiri pembangunan Kampus ITB, Gedung Merdeka, dan
Observatorium Bosscha di Lembang? Pemikiran Bosscha yang brilian hingga kini
dikagumi dan dihormati seluruh warga di Pangalengan. Jejak sejarahnya antara
lain rumah kediamannya di tengah perkebunan teh Malabar. Meskipun pernah dibom
oleh tentara Jepang dan terimbas gempa, bangunan yang dibangun tahun 1894 itu
masih utuh dan dipertahankan seperti aslinya.
Di dalam rumah Bosscha masih terdapat
ruang tamu lengkap dengan kursi dan meja antik, termasuk piano buatan tahun
1880an. Kamar tidur Bosscha pun masih terawat, dan hanya dapat digunakan untuk
menginap para pejabat PTPN Malabar serta pejabat Pemda. Jika memasuki ruang
bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai ruang bilyar akan terasa jejak sang
pemilik rumah yang telah tiada 90 tahun lalu.
Bosscha wafat pada tahun 1928 di usia
63 tahun karena terjatuh dari kuda tunggangannya. Makam Bosscha terletak
sekitar 500 m dari rumahnya, bangunan makam berbentuk topi bundar seperti yang
sering dikenakannya. Makamnya sangat terawat dan asri. Pak kuncen menyambut
setiap pengunjung dengan ramah, dan menceritakan sejarah Bosscha hingga
meninggalnya dengan sangat antusias. Ia mengaku tidak mendapat gaji tetap dari
PTPN Malabar, dan hanya memperoleh honor Rp 300 ribu per bulan dari pengelola
rumah Bosscha. Ia pun tidak menetapkan tarif kepada pengunjung, bahkan ia
menyiapkan setumpuk data tentang sejarah Pangalengan, yang biasanya difotocopy
oleh para pelajar yang membutuhkannya. Sungguh dedikasi yang patut ditiru…
Menurut cerita kuncen makam, dengan pengaruh dan kekuasaannya
saja, tidaklah mungkin Bosscha mampu membangun sedemikian banyak sarana dan
fasilitas umum di Pangalengan dan Bandung. Dibalik kekuasaannya, Bosscha
ternyata memiliki “kekuatan supranatural”, yang diperolehnya melalui
pertemuannya secara intensif dengan “para penguasa” kawasan gunung
teh. Tempat pertemuan Bosscha dengan “para penguasa” itu hingga
kini masih berdiri tegak, yaitu berupa bangunan joglo kayu berada di puncak
Gunung Nini. Warga setempat meyakini tempat ini memiliki kekuatan magis bagi
orang-orang yang percaya.
Menapak jejak Bosscha di negeri sejuta kabut ini sungguh
pengalaman yang menyentuh jiwa. Selain mata dimanjakan oleh indahnya alam,
penduduk yang bersahaja, udara yang sejuk segar, kita pun memperoleh teladan
seorang Belanda yang teramat mencintai tempat yang ditinggalinya. Meski seorang
penguasa, Bosscha bukan seorang penjajah yang hanya mengeruk keuntungan
dari kekayaan negeri ini. Teladan yang tak pernah kita peroleh dari penguasa
negeri ini, yang dengan rakusnya mengeksploitasi sumber alam dan menyengsarakan
rakyatnya...
By Nurina 19/07/2012
By Nurina 19/07/2012







0 komentar:
Posting Komentar