Selasa, 08 Januari 2013

0 Menapak Jejak Bosscha di Negeri Sejuta Kabut


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

     Pangalengan. Kabupaten yang berada di Bandung Selatan ini dapat dicapai sekitar 2 jam berkendara dari Banjaran. Dan bersiaplah melewati jalan yang tidak terlalu mulus dan mendaki Jika jalan tidak padat kendaraan, khususnya angkot, dalam waktu 2 jam Anda sudah tiba di Negeri Sejuta Kabut.

(Masih Narsis aja, Difoto diMakam Pula)
    Pangalengan sudah eksis jauh sebelum Kota Bandung ada, tepatnya sejak tahun 1890an saat seorang pemuda Belanda bernama Karel Albert Rudolf (K.A.R) Bosscha datang ke desa di atas gunung berhawa sejuk 8-16 derajat celcius ini.  Ia membuka lahan tidak produktif jutaan hektar menjadi perkebunan teh. Untuk melancarkan kehidupan masyarakat dan kegiatan bisnisnya, Bosscha membangun sarana jalan, penerangan, sekolah untuk warga Pangalengan. Dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga Belanda, ia pun menternakan ratusan sapi perah di sekitar Situ Cileunca. Orang pribumi dibekali pengetahuan memerah susu dan mengembangbiakkan sapi perah, yang menjadi roda kehidupan warga setempat hingga kini. Saat itu Kolonial Belanda menetapkan Pangalengan sebagai pusat peternakan susu perah, bahkan majalah ¨Mooi Indie¨ menyebut wilayah Pangalengan sebagai Friesland in Indie (Frisia adalah daerah penghasil susu di Belanda).
(Dibelakang, Makamnya Bosscha)
     Sejarah Pangalengan tak bisa dilepaskan dari peran dan kontribusi Meneer Bosscha (1896-1928). Dan tahukah Anda, Bosscha adalah penggagas dan pendiri pembangunan Kampus ITB, Gedung Merdeka, dan Observatorium Bosscha di Lembang? Pemikiran Bosscha yang brilian hingga kini dikagumi dan dihormati seluruh warga di Pangalengan. Jejak sejarahnya antara lain rumah kediamannya di tengah perkebunan teh Malabar. Meskipun pernah dibom oleh tentara Jepang dan terimbas gempa, bangunan yang dibangun tahun 1894 itu masih utuh dan dipertahankan seperti aslinya.
Di dalam rumah Bosscha masih terdapat ruang tamu lengkap dengan kursi dan meja antik, termasuk piano buatan tahun 1880an. Kamar tidur Bosscha pun masih terawat, dan hanya dapat digunakan untuk menginap para pejabat PTPN Malabar serta pejabat Pemda. Jika memasuki ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai ruang bilyar akan terasa jejak sang pemilik rumah yang telah tiada 90 tahun lalu.

Bosscha wafat pada tahun 1928 di usia 63 tahun karena terjatuh dari kuda tunggangannya. Makam Bosscha terletak sekitar 500 m dari rumahnya, bangunan makam berbentuk topi bundar seperti yang sering dikenakannya. Makamnya sangat terawat dan asri. Pak kuncen menyambut setiap pengunjung dengan ramah, dan menceritakan sejarah Bosscha hingga meninggalnya dengan sangat antusias. Ia mengaku tidak mendapat gaji tetap dari PTPN Malabar, dan hanya memperoleh honor Rp 300 ribu per bulan dari pengelola rumah Bosscha. Ia pun tidak menetapkan tarif kepada pengunjung, bahkan ia menyiapkan setumpuk data tentang sejarah Pangalengan, yang biasanya difotocopy oleh para pelajar yang membutuhkannya. Sungguh dedikasi yang patut ditiru…
Menurut cerita kuncen makam, dengan pengaruh dan kekuasaannya saja, tidaklah mungkin Bosscha mampu membangun sedemikian banyak sarana dan fasilitas umum di Pangalengan dan Bandung. Dibalik kekuasaannya, Bosscha ternyata memiliki “kekuatan supranatural”, yang diperolehnya melalui pertemuannya secara intensif dengan “para penguasa”  kawasan gunung teh.  Tempat pertemuan Bosscha dengan “para  penguasa” itu hingga kini masih berdiri tegak, yaitu berupa bangunan joglo kayu berada di puncak Gunung Nini. Warga setempat meyakini tempat ini memiliki kekuatan magis bagi orang-orang yang percaya.
Menapak jejak Bosscha di negeri sejuta kabut ini sungguh pengalaman yang menyentuh jiwa. Selain mata dimanjakan oleh indahnya alam, penduduk yang bersahaja, udara yang sejuk segar, kita pun memperoleh teladan seorang Belanda yang teramat mencintai tempat yang ditinggalinya. Meski seorang penguasa, Bosscha bukan seorang penjajah  yang hanya mengeruk keuntungan dari kekayaan negeri ini. Teladan yang tak pernah kita peroleh dari penguasa negeri ini, yang dengan rakusnya mengeksploitasi sumber alam dan menyengsarakan rakyatnya...

By Nurina 19/07/2012

0 komentar:

Posting Komentar